5 Kebiasaan yang Seharusnya Saya Punya di Usia 20
Catatan lama saya soal ini sebenarnya hanya berisi tiga poin, tapi kalau saya tulis ulang sekarang dengan kepala yang lebih tua, daftarnya jadi lima. Bukan penyesalan sih, lebih ke “coba dulu tahu”.
1. Peduli secukupnya. Semakin keras kita berusaha bahagia, semakin sering justru merasa tidak bahagia. Banyak energi di usia 20 habis untuk memikirkan penilaian orang lain — soal karier, soal pencapaian, soal timeline hidup yang entah siapa yang bikin. Peduli secukupnya ternyata bukan berarti jadi apatis, tapi memilih dengan sadar apa yang layak dipikirkan.
2. Mulai olahraga. Kedengarannya klise, tapi benar: badan itu investasi jangka panjang. Di usia 20 rasanya semua baik-baik saja, begadang semalaman pun pulih sendiri. Tapi kebiasaan bergerak itu tabungan untuk kesehatan belasan tahun ke depan, dan yang paling penting, membangun kebiasaannya jauh lebih sulit daripada menjalankannya. Mulai kecil, yang penting konsisten.
3. Punya hiburan yang produktif. Cari satu hal yang kamu cukup jago, lalu nikmati itu di waktu luang. Entah itu menulis, masak, musik, atau ngoprek proyek kecil. Ada satu kalimat di catatan saya yang masih saya suka sampai sekarang:
Productive fun creates its own luck.
Hiburan yang produktif itu menghasilkan sesuatu — skill, karya, atau kenalan baru — dan dari situlah keberuntungan sering datang sendiri.
4. Menulis. Bukan harus jadi penulis, tapi kebiasaan menuangkan isi kepala. Catatan saya ini sendiri buktinya: tulisan pendek bertahun-tahun lalu masih bisa dibaca ulang dan dipakai lagi sekarang. Menulis memaksa pikiran yang kabur jadi kalimat yang jelas.
5. Berani ambil kesempatan. Di usia 20 sering kali kita menolak sesuatu karena merasa belum siap. Padahal kesiapan itu sebagian besar datang setelah kita mulai, bukan sebelumnya. Ambil dulu, belajar sambil jalan.
Kalau diringkas: jangan terlalu keras sama diri sendiri, jaga badan, isi waktu luang dengan sesuatu yang menghasilkan, rekam pikiranmu, dan jangan terlalu sering bilang tidak pada kesempatan. Simpel ditulis, memang tidak sesimpel itu dijalani.