Soal Ownership: Belajar dari Prinsip Traveloka

1 minute read

Beberapa waktu lalu saya membaca ulang prinsip-prinsip kerja Traveloka yang dulu sempat saya simpan, dan satu yang paling menempel adalah yang pertama: Take Ownership, Seize Opportunities.

We think like an entrepreneur. We maintain a sense of accountability to ensure things get done right, own our mistakes, and persist. We fixate ourselves to our goals, seek opportunities, and grab them once rightly identified.

Sederhana dibaca, tapi kalau dipikir-pikir cukup dalam. Ownership di sini bukan sekadar “mengerjakan tugas sampai selesai”. Ada tiga lapisannya:

Pertama, rasa tanggung jawab seperti pemilik. Bukan mental “ini bukan jobdesc saya”. Kalau melihat ada yang salah atau bisa diperbaiki, ya bergerak — meskipun bukan yang paling bertanggung jawab di atas kertas. Hasilnya ikut jadi tanggung jawab moral sendiri.

Kedua, mengakui kesalahan. Ini yang paling susah. Natural sekali rasanya mencari pembenaran atau menunjuk keadaan ketika ada yang salah. Tapi orang yang own the mistakes justru yang paling cepat dipercaya lagi, karena tidak perlu ada energi yang dihabiskan untuk menutup-nutupi.

Ketiga, persisten dan sigap mengambil kesempatan. Kesempatan jarang datang sambil mengetuk pintu dengan sopan — biasanya dia menyamar jadi masalah yang tidak ada yang mau mengerjakan. Begitu teridentifikasi, langsung diambil.

Dua prinsip pendampingnya juga menarik. Be Resourceful — cari cara cerdik memakai apa yang ada untuk mengatasi kesulitan; capai lebih dengan lebih sedikit. Dan Think Bigger — terbuka pada kemungkinan, lebih sedikit menghakimi dan lebih mau melihat melampaui persepsi saat ini.

Ketiganya kalau digabung jadi pola pikir yang praktis: kerjakan seperti itu punyamu sendiri, kalau salah akui dan perbaiki, jangan tunggu sumber sempurna baru mulai, dan jangan kecilkan kemungkinan hanya karena sekarang belum terlihat.

Cocok untuk karier di perusahaan, tapi jujur saja lebih cocok lagi untuk hidup secara umum.

Tags:

Updated: